Selalu Cinta
***
Kamu
tanya , aku menjawab
Kamu
minta , aku berikan
Kusayangi
kamu …
***
Aku
kembali terduduk di sini. Di taman ini, taman aku dan dia. Aku tak bisa
menghitung bagaimana banyaknya kenangan yang aku dan dia miliki di tempat ini.
Taman ini seakan menjadi saksi bisu kisahku dan dia.
Aku
memejamkan mataku, menghela nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya
perlahan. Masih dengan mata terpejam, aku mencoba mengingat kembali kenangan
manis antara aku dan dia.
Sore
itu, aku berjalan menuju taman. Berlari, tepatnya. Kulirik jam tangan mungil
yang melingkar anggun di tangan kiriku, dan mempercepat langkahku. Kulihat dia
duduk di bangku taman, memangku gitarnya dan mulai memetik gitar itu perlahan.
“Maaf”,
kataku setelah duduk di sampingnya. Ia menoleh, sepertinya baru sadar atas
kedatanganku. Senyum terukir di wajahnya, senyum yang selalu kuingat hingga
alam bawah sadarku.
“Kamu
tuh ya, dari dulu ngaretnya nggak pernah hilang.” katanya, sambil mencubit pipi
kananku lembut.
“Aaah”,
aku meringis kecil sambil mengusap pipiku yang barusan disentuhnya. Wajahku
memanas, aku yakin warnanya pasti semerah tomat. Ah, biar sajalah.
Ia
tertawa kecil, lalu mengacak rambutku. Ini salah satu kebiasaannya saat bertemu
denganku. Lagi-lagi, aku hanya bisa merengut, dan memajukan bibirku, manyun.
“Ah,
berantakan nih” kataku sambil merapikan rambutku yang baru saja diacak.
“Biar
berantakan tetep cantik kok. Aku suka” katanya sambil tersenyum padaku. Aku
yakin, pipiku yang telah semerah tomat ini telah bertambah tingkat menjadi
semerah cabai.
“Oh ya,
kenapa telat ?” tanyanya kemudian.
“Aku
ketiduran. Hehe” jawabku jujur. Ia tersenyum lagi. Kali ini beda, ia tersenyum
geli, seakan menahan tawanya. Ia lalu kembali memetik gitar yang tadi ia
hentikan. Petikan yang asal, namun tetap terdengar harmonis di telingaku. Ya,
kuakui ia memang dewa dalam bergitar. Dan aku suka itu.
“Kebo”
katanya lagi, pelan.
“Heh,
ngomong apa? Enak ajaaa!” bantahku sambil mencubit lengannya. Ia tertawa lepas.
Ah tawa itu, aku kangen.
“Kamu
denger ya? Untunglah, ternyata pacarku nggak budek” Aku memalingkan wajahku
darinya, lalu memasang wajah cemberutku. Ah, bodo.
“Yah,
ngambek. Maaf deh maaf, becanda sayaaang” bujuknya sambil berlutut di
hadapanku. Dasar gombal.
Aku
terus memasang wajah manyunku, saat tiba-tiba ia menarik tanganku dan
mengajakku berlari. Aku yang kaget harus benar-benar menjaga keseimbanganku
agar tak terjatuh konyol di depannya.
“Kka,
apa-apaan sih!” teriakku padanya, yang hanya dibalas dengan senyuman.
“Udah,
ikut aja bawel” katanya.
Ia lalu
membawaku ke ujung taman dan, hey! Aku tak pernah mengunjungi tempat ini
sebelumnya. Ini dimana? Dari mana ia tahu tempat ini?
“Tunggu
disini bentar ya” katanya lembut sambil melepas genggamannya yang erat dari
tanganku, dan berjalan memunggungiku. Aku melihat sekelilingku, ah sepinya
tempat ini. Aku takut.
Aku
terus menunggunya dengan perasaan tak karuan. Takut, cemas, dan ingin marah
semua berkumpul jadi satu dalam benakku. Dia kemana sih? Sudah lebih 20 menit
aku disini dan dia tak kunjung kembali.
Lututku
bergetar, tak mampu lagi menopang tubuhku. Aku terduduk lemas. Kubiarkan cairan
hangat berebut turun dari bola mataku, membentuk aliran sungai kecil di pipiku.
Dimana dia? Aku takut sendiri!
Samar-samar
kudengar lantunan nada indah dari petikan gitar. Aku menoleh, ternyata ia
disana. Kulihat, ia berjalan mendekat ke arahku.
“Kamu
kenapa nangis?” tanyanya. Ia melepas gitar yang sejak tadi digenggamnya.
Tangannya bergerak menuju pipiku, menghapus anak sungai yang tadi tercipta,
lalu menatapku dalam. Ingin rasanya aku membentaknya, memarahinya, tapi
ah…entah kenapa bibirku seakan tak searah dengan hatiku.
“Takut”
hanya itu yang keluar dari bibirku. Dan kuakui, betapa bodohnya aku. Aku
mengutuk diriku habis-habisan. Tentu saja sekarang ia menganggapku cewek
penakut yang lemah.
Ia
mengusap kepalaku, setelah sebelumnya mengucapkan maaf untukku. Aku masih tak
habis pikir, kenapa aku tak bisa marah padanya? Apakah ia mengontrol seluruh
jalan pikiranku? Ah, lupakan. Aku tahu aku bodoh.
“Baru aku
tinggal bentar aja udah nangis, gimana nanti kalo aku pergi?”
Aku
menoleh, “Ah, kamu ngomong apa sih, ga lucu” bantahku. Entahlah, aku merasa ada
sesuatu yang mengganjal dari perkataannya barusan.
“Aku
serius, nanti kalo aku pergi ninggalin kamu, kamu harus janji ya, kamu akan
terus dan tetap tersenyum” katanya lagi.
“Aku ga
mau janji, karena kamu ga akan ninggalin aku, kamu ga boleh ninggalin aku” Ia
tersenyum, lalu merogoh kantong jaketnya.
“Nih”
katanya sambil mengulurkan permen lollipop ke arahku. Aku tersenyum, dan meraih
lollipop itu dari tangannya. Langsung saja aku mengemutnya. Manis !
“Eh, aku
punya sesuatu buat kamu. Pegangin dulu nih” kataku sambil menyerahkan lollipop
yang sedang kuemut padanya. Aku mulai mencari benda yang kemarin kubeli untuknya
dalam tasku. Ketemu! “Ini buat kamu. Kemarin kubeli di kios pinggiran jalan,
makanya bisa nulis-nulis nama. Maaf ya kalo jelek, aku lagi ga punya du…”
ucapanku terhenti seketika saat kulihat ia memasukkan lollipop yang tadi
kuhisap ke mulutnya. Hei, itu kan bekas ludahku! Tidak, aku tak jijik. Aku
hanya, hmm canggung. Bukankah ini ciuman tak langsung? Iya kan? Ahh..
“Eh,
kenapa?” tanyanya dengan paras watados –wajah tanpa dosa-- yang membuatku makin
geregetan. Dasar cowok, tak pernah peka dengan hal-hal seperti ini.
“Ini,
buat kamu.” kataku, memutuskan mengabaikan peristiwa barusan. Ia mengambil
benda itu dari tanganku.
“Makasih
sayaaang. Bagus banget nih, aku suka !” katanya senang sambil menatap gantungan
kunci bola basket yang betuliskan CS, inisial namaku dan dia. Aku hanya
tersenyum, senang ia menyukai pemberianku.
“Aku
masih boleh minta sesuatu nggak ?” tanyanya.
“Minta
apa lagi? Kan aku udah ngasih itu.” protesku, sambil menunjuk pemberianku tadi.
Ia tertawa, lalu mengacak rambutku – lagi --. Ahh ..
“Aku
nggak minta macem-macem kok. Aku cuma minta ini” Ia mengecup pipiku lembut,
membuatku kaget.
“I love
you” bisiknya.
***
Ku
bicara, kamu yang diam
Ku
mendekat, kamu menghindar
Separah
inikah kamu dan aku
***
Aku
membuka mataku, membuyarkan ingatanku tentangnya. Sungguh, ingin rasanya aku
menangis mengingat itu semua. Tapi kutahan, karena aku tahu, air mataku takkan
mengubah apapun.
Aku
melirik jam tanganku, lalu mendesah perlahan. Sudah 2 jam aku menunggu disini,
namun dia tak kunjung datang. Aku tak menghubunginya, aku ingin menguji
seberapa ingatkah ia tentang janjinya. Karena dulu, ia tak pernah melupakan apa
saja tentang kami, bahkan hal kecil sekalipun.
Aku
mengalihkan pandanganku ke arah langit yang telah berwarna keemasan. Tak ada
lagi sinar menyengat pandangan, tersisa awan jingga yang berarak, pertanda
senja tiba. Tercipta gradasi warna yang indah di atas sana. Tiba-tiba, bangku
yang kududuki bergerak. Aku menoleh, dan kudapati ia duduk di sampingku. Dia
diam. Aku juga.
Sekian
lama aku dan dia terduduk dalam keheningan, tanpa ada satu pun kata yang
terucap. Sungguh, aku tersiksa dengan keadaan ini. Aku kangen dia yang dulu,
dia yang bawel, dia yang cerewet, dia yang selalu memanjakanku. Kuputuskan
untuk bicara duluan. Aku tak tahan lagi.
“Kenapa
telat ?” tanyaku pelan. Kuharap pertanyaan ini bisa mencairkan bongkahan es
yang memisahkan aku dan dia selama ini. Kuharap pertanyaan ini bisa
mengembalikan dirinya yang dulu. Dirinya yang tak lagi kutemukan selama kurang
lebih seminggu ini. Dirinya yang tiba-tiba saja berubah tanpa ku tahu
penyebabnya.
“Maaf”
katanya. Aku diam, menunggu. Mungkin saja masih ada yang akan ia ucapkan. Tapi,
nihil. Ia kembali tenggelam dalam diam setelah mengucap satu kata itu. Jujur
saja, aku kecewa. ‘Maaf’ bukanlah jawaban yang aku harapkan. Aku menghela nafas
dalam.
“Kamu
tahu, seminggu ini aku kesepian. Seakan ada bagian yang hilang dari hidupku.”
ungkapku. Aku menoleh padanya, namun tak ada respon, ia tetap tenggelam dalam
keheningan.
“Hidupku
seakan hampa, nggak ada lagi warna di dalamnya. Aku sendiri nggak ngerti,
gimana bisa diriku yang sesungguhnya hilang bagai ditelan bumi hanya karena
nggak ada kamu? Maksudku, kamu emang ada, ragamu memang selalu kulihat, tapi
hatimu hilang. Dalam jarak sedekat ini pun aku tetap nggak bisa merasakan
kehadiran hatimu di tempat ini. Aku nggak tahu dimana harus mencarinya, aku
benar-benar nggak tahu. Mungkin hatimu udah berkelana ke tempat lain, mencari
hati lain untuk tempat persinggahannya. Atau mungkin, hatimu telah benar-benar
menemukan hati yang lain, yang jauh lebih baik dariku.” Aku berhenti sejenak.
Mencoba memerintahkan otakku agar tak memproduksi kelenjar air mata saat ini.
Mataku benar-benar telah menghangat, dan pandanganku mulai kabur, pertanda
bulir-bulir air mata telah bersiap untuk berebut turun. Tidak, aku tak boleh
menangis, setidaknya untuk saat ini. Aku tak boleh terlihat lemah di depannya.
Aku cewek kuat, aku kuat.
“Aku
tahu, seluruh perkataanku mungkin nggak ada artinya bagimu. Mungkin kamu nggak
peduli apa yang berkecamuk dalam benakku saat ini. Tapi kamu harus tahu,
bagaimanapun perlakuanmu padaku, hatiku tetap akan jadi milik kamu. Kamu nggak
akan terganti. Kamu tetap menempati ruang terbesar dalam hatiku.”
Seakan
tak peduli dengan semua perkataanku, dia tetap diam. Sungguh, aku tak mengerti
lagi apa yang harus kulakukan agar ia bicara. Aku rela menukar apapun yang
kumiliki agar ku bisa mendengar desahan suaranya. Aku rela.
Aku dan
dia kembali tenggelam dalam keheningan. Kalau memang dia nyaman dengan keadaan
ini, baiklah, aku akan diam. Aku tak akan bersuara. Akan kuturuti kemauannya.
“Udah?
Aku mau pulang.” akhirnya, aku bisa mendengar suaranya. Sayangnya, rangkaian kata
yang terucap dari bibirnya tak sesuai dengan harapanku. Rangkaian kata darinya
bagai ribuan jarum yang menancap tepat di hatiku. Tanpa menunggu jawaban
dariku, ia berdiri. Mendekati motor Ninja hijau miliknya yang berdiri kokoh di
samping taman. Kulihat, ia telah terduduk gagah di atas motor kesayangannya
itu.
“Tunggu
!” teriakku saat ia hampir memacu motornya, sambil berlari ke arahnya.
Aku
mendekat, tapi… BRRUMM ! Ia menghindar. Motornya melesat bagai angin, dan
membuatku hanya bisa terpana.
Ya Tuhan,
separah inikah aku dan dia?
***
Bagaimana
bisa, aku tak ada
Di
setiapmu melihat
Sementara
ku ada
***
“Shil,
gue pulang dulu ya.” kata Sivia, sahabatku. Aku tersenyum, lalu menganggukkan
kepalaku.
“Iya,
cepetan sana, sang pangeran udah nungguin tuh” ledekku, sambil menunjuk-nunjuk
pacar sahabatku ini, Gabriel. Yang ditunjuk hanya nyengir kuda ga jelas. Sivia
melangkah memunggungiku, namun saat langkahnya yang ketujuh ia berbalik ke
arahku. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi menyatakan keherananku.
“Kenapa,
Vi ?” tanyaku.
“Lo
nggak apa-apa kan gue tinggal ?” tanyanya, dengan tatapan cemas. Aduh, plis deh
Vi, aku bukan anak kecil lagi.
Aku
terkekeh pelan, “Gue nggak apa-apa kali Vi, nyantai aja deh.”
“Lo
pulang sendiri lagi ?” Aku mendesah pelan, Via menatapku iba.
“Menurut
lo ?” kataku, sambil tersenyum miris.
“Aduh,
gue lama-lama makin nggak ngerti deh. Sebenarnya gimana sih status hubungan lo
sekarang ini sama si Ca…”
“Gantung”
jawabku, langsung memotong ocehan Via. Sudahlah, aku sedang tak berniat
membahas soal ini.
“Sabar
ya Shillaku sayaang” Via mengusap pipiku. Aku tersenyum.
“Ikut
gue ke parkiran yuk, kasian si Iel udah nunggu lama. Lagian sopir lo jemputnya
di parkiran kan ? “ Tanya Sivia. Aku menggeleng.
“Gue ga
dijemput, naik taksi aja“ bantahku.
“Ya tetep
aja lo harus nemenin gue ke parkiran. Taksi kan adanya di parkiran doang. Wooo”
Sivia mencibirku. Terpaksa, aku mengikutinya dengan dongkol. Yah, jadi obat
nyamuk gratisan lagi nih. Asal tau aja, Sivia kalo udah sama Gabriel bisa lupa
dunia.
Aku dan Sivia
berjalan beriringan menuju parkiran sekolah kami, dan terbukti, aku benar-benar
menjadi ‘kacang’ dan ‘obat nyamuk’-nya Sivia dan Gabriel. Daripada bengong,
kuputuskan untuk meraih HPku, dan segera mengutak-atiknya.
“CAKKA
!” aku segera menoleh saat Sivia dan Gabriel bersamaan meneriakkan nama
tersebut. Nama yang setiap malam kusebut, kuingat, dan kutangisi karena
perubahannya. Tanpa sadar, aku menunduk saat mataku dan matanya menyatu. Jujur
saja, aku tak menemukan apapun di matanya indahnya. Tak seperti dulu, matanya
selalu menatapku penuh sayang.
Derap
langkahnya semakin terdengar, pertanda ia makin mendekat. Aku meremas tanganku
yang kini telah basah dengan keringat, dan telah sedingin es. Semoga saja ini
bisa meredakan detak jantungku yang seakan meronta ingin keluar dari tempatnya.
Mungkin orang yang berjarak 1km dariku pun masih bisa mendengar detak jantungku
ini.
“Hei
Yel, hei Vi” sapanya pada Sivia dan Gabriel. Hei, bagaimana denganku ? Apakah
aku invisible sehingga ia tak bisa menyadari kehadiranku saat ini ?
“Yap,
hei juga. Shillanya nggak disapa nih?” Ah, Sivia bodoooh ! Apa-apaan sih dia?
Kenapa bawa-bawa namaku segala? Aku tak mau ia berpikir aku membutuhkan sapaan
darinya, walaupun sebenarnya memang itu kenyataannya.
Cakka
sepertinya mengabaikan perkataan Sivia barusan, terlihat dari mimik wajahnya
yang cuek. Atau sok cuek? Entahlah, kesimpulannya dia enggan menyapaku.
Jangankan menyapa, menatapku saja tak ia lakukan.
“Ada
perlu apa ya manggil gue ?” tanyanya. Sivia dan Gabriel hanya saling tatap,
lalu akhirnya mengangkat bahu, saling menyalahkan.
“Ga
penting ternyata. Gue duluan ya” katanya, lalu segera berlalu dari hadapan
kami. Ia lewat di hadapanku bagaikan aku tak tampak di matanya, tak sedikitpun
pandangannya ia tujukan padaku.
Aku
terus menatapnya, hingga tubuhnya hilang bersamaan dengan melajunya motor Ninja
miliknya. Aku tak tahu, namun yang pasti ada desiran aneh dalam dadaku saat
ini. Aku merasa, ini kali terakhir aku bisa melihat dirinya, melihat sosoknya.
Ah, semoga ini hanya perasaanku saja.
“Sabar
ya Shil” kata Sivia lembut. Ia lalu mengusap punggungku perlahan, membantuku
sedikit meredakan perih yang baru saja tercipta.
“I’m
okay Vi. Trust me” kataku akhirnya. Lagi-lagi, aku membohongi diriku sendiri.
Bagaimana bisa aku baik-baik saja saat orang yang sangat berarti di hidupku tak
menganggapku ada?
***
Bagaimana
bisa, kamu lupakan
Yang tak
mungkin dilupakan
Aku
selalu cinta, selalu cinta
***
Malam
ini, lagi-lagi mataku tak bisa kuperintahkan untuk terpejam. Insomnia yang
akhir-akhir ini menyerangku sepertinya kembali menghampiriku malam ini.
Sebenarnya aku tak yakin hanya insomnia sialan itu saja yang menjadi penyebab
susah tidurku saat ini, ada hal lain yang jauh lebih penting yang membuatku
enggan menuju alam mimpi. Ya, Cakka-lah hal lain itu.
Kulirik
jam yang melekat di tembok pink kamarku, yang membuatku menahan nafas.
Kupejamkan mataku rapat-rapat. 5… 4… 3… 2… 1 .
Bersamaan
itu pula terdengar alunan suaranya dari HPku. Lagu One Time-nya Justin Bieber
yang ia nyanyikan memang kugunakan sebagai nada alarm Anniversary aku dan dia.
Lagu yang ia nyanyikan di depanku saat anniversary kami yang ke 1 tahun, 2
bulan lalu. Lagu itu saat ini terasa begitu menusuk relung hatiku, kata demi
kata yang terdengar seakan menambah perih di sini. Di hatiku.
Hari
ini, 9 November 2010 tepat 14 bulan hubunganku dan dia berjalan. Ya, aku dan
dia memutuskan untuk membentuk suatu hubungan di tanggal 09-09-2009. Tanggal
yang bagus bukan? Asal tahu saja, banyak yang iri karena aku dan dia memiliki
tanggal ini. Namun sayangnya, good date doesn’t change anything. Toh,
hubunganku dan dia tak semulus tanggal cantik itu.
Kutatap
HPku yang ada di genggamanku dalam, merelaksasikan seluruh pikiranku dari
harapan-harapan yang berkecamuk dalam otakku saat ini. Bodohnya aku, aku tetap
saja tak bisa berhenti berharap agar dia menghubungiku saat ini, sekedar
mengucapkan ‘happy anniversary’ untukku.
Tiba-tiba
benda mungil itu bergetar, menandakan sebuah pesan masuk menghampiri inbox-ku.
Aku memekik kecil, ya Tuhan semoga pesan ini darinya. Semoga harapanku tak
hanya menguap sia-sia. Kubaca pesan itu dan...
From :
Sivia =)
Happy
anniv shilla !
Hope
everything will be better ;*
14
months , that’s a long time .
congrats
!Keep smile please * Via =)
Aku
mendesah, ah ternyata Sivia. Bodohnya aku terlalu berharap padanya. Orang gila
pun mungkin tahu, tak akan ada ucapannya untukku. Tak seperti bulan lalu, yang
ia menelponku dari jam 12 malam hingga 5 subuh, apalagi seperti 2 bulan lalu,
yang ia sampai memanjat balkon kamarku dan ‘menculikku’ ke taman tepat jam 12
malam hanya untuk memberiku surprise. Tidak, kejadian itu tak akan terjadi saat
ini, mungkin hingga seterusnya.
2 jam
aku tetap tak bisa memerintahkan mataku untuk menutup, malah cairan hangat yang
meronta keluar dari dalamnya, tanpa kuminta. Kubiarkan itu, kuharap semua
goresan perih di hati ini akan ikut keluar dari tubuhku bersama dengan air mata
yang mengalir tak kunjung henti. Tapi, selama apapun aku menangis, takkan ada
yang berubah. Harapanku tetap takkan terwujud, takkan ada ucapan mesra darinya
saat ini.
Aku tak
habis pikir, bagaimana bisa ia melupakan ini? Bagaimana bisa ia melupakan
sesuatu yang harusnya telah menempel erat di otaknya? Bagaimana bisa ia
melupakan yang tak mungkin dilupakan?
“Happy
anniversary” ucapku, memecah keheningan dalam derai tangis.
***
Kamu
hilang, aku menghilang
Semua
hilang, yang tak terkira
Jangan
tanya lagiTanya mengapa …
***
Kau tahu
rasanya ditinggalkan? Kau tahu rasanya disakiti? Kau tahu rasanya dilupakan?
Jika tidak, tanyakan padaku. Karena itulah yang sedang kurasakan saat ini.
Orang yang kusayangi, kucintai dan begitu berarti di hidupku kini menghilang.
Tanpa jejak. Perih yang tercipta di hatiku kini benar-benar bertambah, mengikis
seluruh permukaan hatiku dan menancap tepat di bagian dalamnya. Aku bahkan tak
tahu ungkapan apa yang pantas untuk hubunganku dan dia. Masih ‘in a
relationship’-kah ? Tapi aku tak lagi berkomunikasi dengannya, dan benar-benar
lost contact saat dia menghilang, 3 hari lalu. Atau kami sudah tak memiliki
hubungan apa-apa lagi? Namun tak pernah tercipta kata berpisah antara aku dan
dia, dan aku juga tak pernah berharap perpisahan itu terjadi antara kami.
Kalau
saja aku bisa memilih, aku lebih memilih dia membenciku, asalkan ia tetap hadir
di hadapanku, dibandingkan dengan kondisi seperti ini. Aku bahkan tak tahu ia
dimana, sedang apa, apakah ia baik-baik saja, apakah ia merindukanku seperti
aku merindukannya saat ini. Ya, mungkin kalian menganggapku cewek yang bodoh,
yang bahkan tak tahu apa-apa tentang pacarku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi?
Ia bahkan sudah tak pernah menganggapku ada, ia tak pernah lagi bercerita
tentang dirinya padaku seperti dulu.
3 hari
sudah ia menghilang, dan selama 3 hari pula aku terus mencarinya. Semua orang
yang kenal akan sosok dirinya telah kutanyakan keberadaannya, namun seluruh
jawaban mereka menyiratkan arti yang sama. Hanya gelengan kepala, ucapan ‘gue
ga tau’, dan posisi bungkam yang terus aku terima. Putus asa? Ya, harusnya
seperti itu, harusnya aku telah putus asa dan berhenti mencari, berhenti
membuang waktuku. Tapi aku tak seperti itu, aku tak mau mengecewakannya, aku
tak akan menyerah sebelum kutemukan dimana sosoknya berada saat ini.
Dan kau
tahu apa anggapan orang lain akan keputusanku? Mereka malah memintaku untuk
berhenti mencarinya. Alasan mereka sama, khawatir akan diriku yang langsung
drop sejak kepergiannya.
Mereka
bilang badanku semakin kurus, mataku bertambah cekung yang dibingkai dengan
lingkaran hitam di bawahnya, wajahku terus terlihat pucat dengan bibir yang
semakin pudar kecerahannya, namun tak kupedulikan itu. Yang terpenting hanya
satu, dia kembali, bagaimanapun caranya.
*
Jam
telah menunjukkan pukul 08.47, tapi aku tak beranjak dari tempat tidurku. Aku
dilarang ke sekolah oleh kedua orang tuaku karena kondisiku yang tak
memungkinkan. Aku jatuh sakit, dan kau tahu apa penyebabnya? Ya, tentu saja,
siapa lagi kalau bukan Cakka?
Aku
memilih untuk mengasingkan diri sementara ke villaku yang letaknya cukup jauh
dari rumah, kuharap bisa membantu menenangkan pikiranku juga hatiku yang masih
tertancap rasa perih. Sudah 4 hari aku disini, dan aku mulai bisa menenangkan
diriku walaupun hanya sedikit.
Aku
beranjak dari tempat tidurku, dan bergegas menuju kamar mandi, membasahi
seluruh tubuhku dan berharap semoga bebanku ikut mengalir keluar dari tubuhku
bersama air-air itu. Tak sampai 30 menit aku telah siap dengan pakaian yang
biasa kugunakan saat jalan santai mengelilingi kompleks perumahan dekat sini,
kegiatan yang selama 3 hari ini aku lakukan, sekedar untuk melepaskan penat.
Sekitar
15 menit sudah aku berjalan mengikuti arah kakiku, dan hmm ini dimana ya?
Entahlah, aku sepertinya pernah ke tempat ini, tapi soal kapan, aku tak tahu.
Ah, bodo amatlah. Aku lalu melanjutkan langkah kakiku yang terhenti, saat
tiba-tiba kulihat seseorang yang begitu familiar di mataku. Dia menyerupai
sosok Cakka, namun terlihat lebih dewasa. Dia Alvin, kakak Cakka.
“Kak
Alvin !” aku menutup mataku, menanti respon yang akan kuterima, takutnya salah
orang. Kalau salah, aku tak tahu bagaimana malunya aku.
“Shilla”
aku membuka mata, bersyukur mendengar respon itu. Aku berlari kecil menghampiri
Kak Alvin.
“Cakka
mana, Kak ?” tanyaku langsung. Aku sedang tak ingin berbasa-basi saat ini. Kak
Alvin pasti tahu dimana Cakka sekarang, Kak Alvin benar-benar orang yang tepat
untuk kutanyakan.
Kak
Alvin terdiam, bisa kubaca ada gurat kesedihan yang tersirat di matanya. Ia
menghela nafas perlahan.
“Lo ikut
gue sekarang Shil” katanya, lalu langsung menarik tanganku dan menuntunku kearah
motornya.
“Kemana,
Kak ?”
“Cakka
butuh lo” jawabnya, yang langsung menumbuhkan ribuan tanda tanya di benakku.
*
Tanganku
terangkat menutupi mulutku yang refleks terbuka, lututku lemas pertanda tak
mampu lagi menopang tubuhku, bulir-bulir air hangat telah meronta keluar dari
mataku. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang tersaji di hadapanku.
Cakka, orang yang begitu berarti dalam hidupku, orang yang selalu terlihat kuat
di hadapanku, kini terbaring tak berdaya di atas ranjang putih, dengan berbagai
alat yang tak kutahu apa namanya menghiasi beberapa anggota tubuhnya. Ya Tuhan,
ini mimpi kan? Tolong jawab bahwa ini mimpi, dan kuharap saat ku terbangun
nanti ia tetap di sisiku dengan kondisinya yang sempurna.
Aku
melangkah perlahan ke arah kamar tempat ia dirawat, lalu duduk tepat di samping
ranjangnya. Kuraih tangannya yang begitu dingin dan kugenggam seerat mungkin,
berusaha mentransfer sedikit rasa hangat dari telapak tanganku. Aku mengusap
pipinya, membelai rambutnya sambil terus diiringi oleh meluncurnya air mata di
kedua pipiku.
“Kak,
Cakka kenapa? Kenapa dia bisa seperti ini? Cakka sakit apa kak?” tanyaku pada
Kak Alvin. Ia diam, tak bergeming.
“Jawab
aku kak! CAKKA KENAPA?!” aku mulai meronta, menuntut jawaban atas keadaan ini.
“Cakka
sakit, leukemia, kanker darah” aku terdiam, tak menyangka penyakit itu
menyerang Cakka, sosok yang begitu kuat di hadapanku. Ya, kuakui akhir-akhir
ini berat badannya menyusut. Ia juga sering terlihat memegangi kepalanya yang
kutahu pasti sakit, namun ia tak pernah mengakui itu padaku. Ia juga semakin
jarang bermain basket, karena kondisi tubuhnya yang melemah.
“Tapi
masih bisa disembuhin kan kak? Dia masih bisa bangun lagi kan kak?” tanyaku
dalam isak tangis. Punggung tangan Cakka kini telah basah dengan air mataku.
Kak Alvin menggeleng samar.
“Stadium
akhir, Shil. Tim dokter sudah menyerah. Ia masih bisa hidup seperti ini pun
karena bantuan alat-alat itu. Kalau alat-alat itu dilepas, dia pasti
sudah..hmm..dia pasti...”
Tanpa
perlu lanjutannya aku sudah tahu pasti apa yang akan Kak Alvin ucapkan, aku
tahu. Aku kembali terisak, bahkan lebih dari tadi. Semakin kueratkan genggaman
tanganku di tangan Cakka, aku tak rela melepasnya.
“Dokter
sedang berunding, meminta persetujuan semua pihak untuk melepaskan semua alat
bantu yang melekat di tubuh Cakka, karena menurut mereka, ga ada harapan lagi
bagi Cakka. Walaupun berat, semua keluarga udah setuju, karena kami ga mau
ngeliat Cakka terus tersiksa dengan status hidupnya yang ga menentu. Hanya satu
orang yang belum kami tanyakan. Dia memang ga termasuk di keluarga kami, tapi
kami tahu dia sangat berarti bagi Cakka. Dan orang itu lo Shil. Apa lo bersedia
dokter melepas semua alat bantu itu?”
Aku
terdiam. Kubiarkan otakku bekerja dan berpikir mancari jalan terbaik apa yang
harus kutempuh. Aku memang tak mau melihat kondisi Cakka yang tak menentu
seperti ini, tapi di sisi lain aku juga tak mau Cakka pergi. Ya Tuhan, jalan
apa yang harus ku pilih ?
“Ikuti
kata hati lo Shil, jangan peduliin tekanan dari luar. Kalo memang lo ga bersedia,
kami akan meneri…”
“Lepasin
semuanya Kak. Aku bersedia”
*
Dear my
beloved Princess, Ashilla Zahrantiara
Kamu
sayang aku? Kalau ya, berjanjilah kamu ga akan membiarkan air matamu mengalir
saat aku pergi.
Maafin
aku, kalau akhir-akhir ini aku bertingkah keterlaluan padamu
Maafin
aku kalau aku ngecewain kamu
Maafin
aku karena aku ga bisa menjaga kamu
Maafin
aku kalau aku membuat mata indahmu memproduksi bulir-bulir air mata
Kamu
tahu alasan kenapa aku ngejauhin kamu akhir-akhir ini ?
Itu
karena aku ga mau kamu tahu apa yang terjadi padaku
Aku ga
mau kamu tahu akan penyakit ganas yang kini bersarang dalam tubuhku
Aku tahu
, aku terlalu kasar padamu
Tapi
kulakukan itu, bukan karena kemauanku
Aku
hanya ingin kamu benci aku
Aku
hanya ingin kamu marah padaku
Agar
saat aku pergi, takkan ada tangisan darimu untukku
Agar
saat aku pergi, kamu melepasku dengan senyuman indahmu
Terima
kasih atas semua yang kamu berikan untukku
Terima
kasih atas segala kenangan indah yang aku lalui bersamamu
Terima
kasih karena kamu telah mengajarkan aku arti cinta sesungguhnya
Terima
kasih atas senyumanmu yang terus terbayang di benakku hingga saat ini
Kamu
harus janji, setelah kepergianku kamu akan kembali tersenyum
Kamu
harus janji, akan mencari sosok penggantiku yang jauh lebih baik dariku
Kamu
harus janji, kamu ga akan terpuruk karena kepergianku
Kamu
harus janji, akan terus menata hidupmu saat aku tak ada di sampingmu
I love
you, now, and forever
With
love,
Cakka
Kawekas Nuraga
Air
mataku langsung terjun dengan sempurna setelah membaca lembaran surat itu,
benda terakhir darinya untukku. Kini, tak ada lagi sosoknya yang begitu berarti
bagiku. Tak ada lagi suaranya, tak ada lagi sentuhannya. Raganya mungkin telah
pergi, tapi satu hal yang pasti, dia tetap di sini, di hatiku.
Selamat
jalan, selamat menempuh kehidupan baru di atas sana. Tunggu aku, saat waktuku
tiba, aku kan menemanimu dan tersenyum bersamamu. Aku cinta kamu, aku selalu
cinta kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar